Kamis, 18 Februari 2010

Kutipan, kemungkinan jawaban mengapa kita kalah dari Malaysia

Cerita ini pernah saya dengar dulu waktu kuliah di Malang dari alm pak Soetikno. Mengapa kita "gak punya" industri mikroelektronika (misal pembuatan IC) setangguh Malaysia. Alasannya sederhana, karena industri itu tidak padat karya, sehingga akibatnya singkat cerita ditolak...lalu mereka angkat kaki...ke .... Malaysia.

Hari ini saya dengar cerita itu kembali, karena penasaran dengan kebenarannya saya coba cari-cari cerita lama ini. Sudah basi sebenarnya tapi cukup buat pelajaran. Berikut tautan-tautan dan kutipannya:

1.Kemanakah mereka nanti
http://hazimahmadi.wordpress.com/2009/04/20/kemanakah-mereka-nanti/

...Hal ini terjadi karena di Indonesia belum ada industri chip. Dulu pernah ada, tapi karena bukan pabrik yang padat karya, akhirnya (diusir) pindah ke Malaysia. ...


2.http://www.mail-archive.com/teknologia@googlegroups.com/msg10052.html
Q1> kalau begitu ini tidak ada bedanya dengan kenyataan dimana pada 1970
Pak Samaun ingin membuat industri semi melalui fairchild tapi ditolak
dengan alasan "padat karya" ?

Q2> Waktu itu ceritanya National Semiconductor sudah punya pabriknya
(di Bandung). Jadi sudah ada. Hanya, waktu itu mereka mau meningkatkan
dengan memasang robot/mesin. Karena ketakutan digantikan mesin,
maka usulan mereka ditolang. Akhirnya perusahaan minggat sekalian
ke Malaysia :)

3. Fairchild Membuat Si 'Kaki Ringan' Kerasan
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2001/01/29/EB/mbm.20010129.EB77266.id.html
... TIDAK mudah menjadi tuan rumah yang baik bagi para investor asing. Dan lebih sulit lagi menciptakan surga investasi sehingga si "kaki ringan" (footloose industry) enggan beranjak pergi. Tantangan semacam ini semestinya sudah terlihat ketika PT Fairchild Semiconductor Indonesia?PMA dari Amerika Serikat yang bergerak di bidang semikonduktor?Juli 1986, menutup pabriknya di sini dan pindah ke Malaysia ...

... Mengapa Fairchild angkat kaki, padahal waktu itu gerakan kaum buruh sangat "tertata rapi"? Ternyata perusahaan AS ini merasa tak nyaman karena pemerintah Indonesia menolak rencana pengurangan pegawai. Waktu itu, Menteri Tenaga Kerja Sudomo berdalih, Fairchild adalah perusahaan padat karya sehingga tidak boleh memecat buruhnya dengan alasan menggunakan robot. Di pihak lain, Fairchild beranggapan sudah saatnya menerapkan padat teknologi. Akhirnya, benturan antara pemerintah RI dan Fairchild tak terelakkan lagi, sampai perusahaan itu hengkang dari Indonesia. ...

... Kasus Fairchild saja sudah membuat Indonesia gigit jari. Di Malaysia, pabrik pembuat komponen komputer, televisi, dan radio ini kini menjadi tulang punggung ekspor elektronik. Di Malaysia, industri semikonduktor ini berkembang pesat dan menyundul industri elektronik lainnya seperti komputer dan elektronik berteknologi tinggi. Sukses pemulihan ekonomi di Korea juga banyak ditopang industri semikonduktor. "Ini kesalahan fatal yang tidak mau kita akui," kata Anton.

Memang, sudah waktunya pemerintah belajar dari negara tetangga seperti Malaysia, Korea, dan Singapura, yang berhasil membangun industri si "kaki ringan" di negaranya. Dengan upah buruh 13 kali lebih tinggi dibandingkan dengan upah yang diterima pekerja Indonesia, nilai ekspor produk elektronik Malaysia pada tahun 2000 bisa mencapai US$ 48,3 miliar, sementara Indonesia hanya US$ 3,7 miliar. Singapura bahkan bisa mengalirkan devisa ke pundi-pundinya sebesar US$ 68,1 miliar dan menggaji buruhnya 23 kali lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia. ...

4. Link2 karya Prof. Dr. Samaun Samadikun

http://www.docstoc.com/docs/20201123/PERKEMBANGAN-BIDANG-MIKROELEKTRONIKA-DAN-TANTANGANNYA-DALAM

http://125.160.17.21/speedyorari/view.php?file=library/library-ref-ind/ref-ind-3/application/pendidikan/buku-samaun-samadikun/karya_20.pdf

Minggu, 24 Januari 2010

Pelajaran dari kekurangan

Dari note di facebook ... Sunday, November 22, 2009 at 7:53pm

... Dipicu kontemplasi, merenung tentang kelemahan saya dalam mengingat (short-term memory). Dan mumpung Tsel Flash lg mau konek :-)


Dimulai dengan kata: barangkali

...barangkali...

Barangkali kesadaran akan kekurangan adalah suatu berkah. Bahkan mungkin kekurangan itu sendiri adalah berkah, berkah tersembunyi. ...barangkali...

Seorang yang merasa badannya kurang sehat mungkin akan lebih memperhatikan upaya menjaga kesehatan badannya.

Seorang wanita yang merasa penampilannya kurang dibandingkan dengan beberapa temannya mungkin akan lebih berupaya untuk tampil menarik, dan jadi lebih menarik dari teman-temannya itu.

Seorang pria yang merasa kurang menarik mungkin akan lebih berusaha tampil lebih rapi daripada mereka yang memang dianggap sudah pada dasarnya menarik.

Seorang yang menyadari pendidikan formalnya tidak tingggi dibandingkan orang lain akan memanfaatkan sisi kepraktisannya dalam bertindak. Dengan perhitungan sederhana barangkali ia akan cebih cenderung cekatan, cepat bertindak dan praktis.

Saya jadi ingat secuplik pengakuan Albert Einstein. Orang yang diakui sebagai jenius ini pernah mengaku bahwa sesungguhnya ia adalah seorang yg retarded. Berkahnya adalah bahwa ia yang terbelakang, pada saatnya menaruh perhatian lebih pada hal-hal yang orang dewasa lain menganggap biasa, taken for granted. Ia mempertanyakan hal-hal yang bagi orang normal lain adalah pertanyaan-pertanyaan konyol yang tidak menghasilkan, karena ia terlambat untuk memperhatikan dan memahami fenomena2 itu.

Seseorang yang menyadari kekurangan dirinya barangkali akan lebih peduli akan kekurangannya itu daripada orang2 yang lain. Dan bisa jadi dengan kombinasi yang tepat dari berbagai faktor ia akan lebih baik dalam hal itu, simply, karena ia peduli, memperhatikan dan berlatih lebih dari yang lain.

Barangkali jika kekurangan itu tidak dapat diatasi juga, ia akan berusaha mancari cara atau alat atau hal lain sebagai bantuan untuk mengatasinya. Bisa jadi, akhirnya, ia pun akan menjadi lebih dari orang lain dalam hal itu, karena ia menguasai cara dan alat untuk membantunya lebih baik. Bahkan dalam upaya menemukan cara untuk mengatasi kekurangannya, serendipity dapat terjadi. Orang lain yang tidak merasa memiliki kekurangkan bisa jadi akan merasa cukup dengan yang dimilikinya hingga tidak merasa perlu untuk mencari cara dan alat bantuan.

Barangkali ia akan mencari jalan lain ... Dengan kekurangan yang ada padanya, ia akan berusaha untuk menjalankan perannya sebagai manusia di bidang yang tidak begitu membutuhkan hal yang menjadi kekurangannya itu. Dan bagi umat manusia, ia tetap menjadi seorang yang sangat bermanfaat. Seandainya ia tidak memiliki kekurangan di bidang lain, ia tentu tidak akan sampai menjadi seorang utama dalam bidangnya saat ini. Dan kita biasa melihatnya di televisi dengan memberi label sebagai ,"jalan hidup" atau "nasib" atau "suratan takdir".

Barangkali pula kekurangan sesuatu pada seseorang (entah ia menyadarinya atau tidak) bisa menjadi manfaat atau jalan rizki bagi yang lain. Pabrik sepatu atau laundry misalnya, atau mungkin mahasiswa bagi seorang dosen, atau yang lainnya.

Begitulah ...barangkali... entah benar atau salah

Catatan dari teman-teman:

+Eryka Oktaviani: kekurangan itu menyadarkan kita akan anugrah dari Allah SWT, kita kadang merasa kekurangan waktu...sehingga dapat merasakan betapa berharganya waktu yang sdh dilewati, atau kita merasakan kurang ''pede'' utk bersikap ataupun mengungkapkan sesuatu dihati, sehingga akhirnya merasakan kekecewaan...shg kita dapat merasakan anugrah kecewa dan bahagia...so kekurangan itu sebenarnya bagian dari kelebihan kita...jadi jangan menganggap kekurangan menjadi kelemahan..tapi anggaplah itu bagian dari kelebihan yg dapat menjadikan kita lebih menghargai apapun ...

+Mega Doank: Kekurangan pd diri kt bukanx mmbuat pth smangat or mnyesali diri sndiri,mghardik diri knapa msti da d dunia,tp trus gali potensi yg da pd diri yg akan mnutupi kekurangan kt,krna Allah SWT,mnciptakan mnusia kedunia tdk dlm keadaan sia2,tp ada sesuatu kelebihan2 yg mnusia itu tdk mnyadarix,mmg kt tdk dpt merubah taqdir yg sdh digariskan Allah,tp manusia bs mngubah nasibx pa bila mau brusaha ttp brtawakal n smangt,krna manusia bkn mhluk yg smpurna hanya Allah SWT,yg mmiliki Maha Ksmpurnaan n Allah mnciptakan mahlukx dgn kelbihan msg2



Jumat, 22 Januari 2010

Untuk para ibu yang mulia

Di St.Helena, Napoleon mengisahkan, "Ibu mengasuhku dengan amat baik. Aku sangat berutang budi kepada beliau yang telah menanamkan kebanggaan dan mengajariku kebaikan." Ia teringat dengan perasaan kagum dan dongkol, betapa dulu ibunya pernah memukulnya dengan ranting karena ia meledek sang nenek. --Felix Markham, "Napoleon"




Rabu, 23 Desember 2009

Menonaktifkan penghapusan otomatis angka nol di depan.

Biasanya sulit untuk menulis nomor telpon selular di tabel pada OpenOffice Writer, sebab angka nol di depan akan dihapus secara otomatis. Misalnya jika ditulis 08135xxxxxxx, maka tiap ganti baris akan hilanglah angka nol di depan.
Solusinya sederhana:

Right click in the table, then Number Recognition: OFF (unchecked).

Credit:
[11] http://user.services.openoffice.org/en/forum/