Tampilkan postingan dengan label student. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label student. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Oktober 2010

Freemat Tutorial_Plot_Basics

Updated Sep 18, 2010 by garystar1

Amplify’d from code.google.com

NOTE: In the current build of Freemat 4.0, the x-axis label gets cut off at the bottom. This will be fixed at some point. Until then, here is a work-around.

To adjust the plot such that all of the x-axis label text is visible, use the following command:

set(gca,'position',[0.12 0.15 0.78 0.75]);

NOTE: Adding a title to a plot may create the following message from Freemat: "Warning: Newly defined variable nargin shadows a function of the same name. Use clear nargin to recover access to the function." This is a bug and will be fixed in a future release of Freemat.

 Read more at code.google.com

 

 


Minggu, 24 Oktober 2010

Scientific computation

Alternatif gratis untuk Matlab.

Amplify’d from www.dedoimedo.com

Back on topic, Matlab alternatives.

FreeMat
Compared to Matlab, the Command Window is a bit sparse. The menu is simple if practical. However, if you disregard the aesthetic minutes, FreeMat offers a clean, functional working environment.
Freemat Command Window
FreeMat fully recognizes the M-code. The integration is seamless. Matlab functions and scripts will run without any problems, provided the infrastructure of needed functions is present.
FreeMat edtiro
Freemat graph
Octave
GNU Octave is a command line numerical computation software with very high compatibility with Matlab. Compared to FreeMat or Scilab, it has a much poorer interface (no IDE). Another downside is that Octave has been optimized for Intel processors and may cause problems when run on AMD machines. I have not encountered this problem, but the potential future users should take this into consideration.
Octave graph
Although the least friendly, Octave is most Matlab-like tool, in terms of code.
Scilab

The major difference between Scilab and the other two programs presented here is that Scilab uses its own high-level programming language, somewhat similar to C. However, it supports Matlab-Scilab conversion, with a high degree of compatibility.

Scilab installation (~ 135MB) also includes Scicos block diagram modeler/simulator, which is very similar to Matlab Simulink and National Instruments LabVIEW. Scicos allows for graphical modeling of dynamic systems with emphasis on the flow rather than code.

Scilab console
Scilab Editor
Scilab graph

Scicos

Scicos is extremely useful for simulation of systems, provided efficient modeling. For people who have never dabbled into graphical programming, the concept may sound strange and revolting. Nevertheless, Scicos is very easy to master.

After only 5 minutes of reading, using the sample Chapter 7: Getting Started from Modeling and Simulation in Scilab/Scicos book, I managed to reproduce one of the examples. Users of either Simulink or LabVIEW will find the transition extremely easy.

Scilab Scicos
Scilab Scicos example

See more at www.dedoimedo.com

 

 


Sabtu, 03 April 2010

Akun FB baru

Mohon maaf buat rekan alumni yang beberapa waktu lalu sempat add saya. Baru sekarang saya bisa menyelesaikan pembuatan akun baru FB. Kali ini khusus buat alumni dan mahasiswa di masa yang akan datang. Jika alumni berkenan silahkan add www.facebook.com/sunulife . Terimakasih.

Tawaran beasiswa ADS 2010

http://wap.vivanews.com/news/read/140741-australia_tawarkan_300_beasiswa

Rabu, 31 Maret 2010

Sosok sang pahlawan


TEACHER HERO: JAIME ESCALANTE

by Brandy from Raleigh

What is a hero? A hero may be defined as something different to different people. To some, a hero may simply be someone who was there for him or her at a certain place and time. To someone else, a hero might be someone who attempted to save the world. To me, Jaime Escalante was a hero in a simpler way. His perseverance outshined above all and his determination inspired others to accomplish great things.

Jaime Escalante was born in La Paz, Bolivia. He first started teaching physics and mathematics. He taught there for 9 years but then wanted to move away to the United States and teach here. He attended the Universidad of Puerto Rico where he chose to take science and math classes. He longed to teach in America, but, being from Bolivia, he could not speak English. His love of teaching encouraged him to go back to school and learn English in order to be able to teach in America. Escalante also chose to study at Pasadena City College to earn a degree in electronics. He took a day job, and continued studying in order to get a mathematics degree. It took Jaime eight years to achieve his goals and teach in the U.S.  



[To continue reading the complete story plase be kind to see the original site.]

Pengaruh dahsyat dari seorang guru

Bagi yang pernah (atau malah sering) menonton film Stand and Deliver, pasti akan ingat akan sosok seorang guru yang sangat berpengaruh, Jaime Escalante. Beliau menjadi istimewa karena pengabdiannya tidak menjadikan siswa jenius menjadi seorang yang lebih jenius lagi. Tetapi beliau mengajarlkan matematika kepada para siswa yang memiliki berbagai keterbatasan di sebuah sekolah menengah atas di kota Los Angeles.

Menarik dan bermanfaat untuk mengetahui bagaimana pendapatnya tentang menjadi seorang guru.




Selasa, 29 September 2009

To do better





... to think more deeply, and to articulate more clearly. ...

-- A Personal Note from William F. Gibson


Dari buku:
How to do systems analysis
by John E. Gibson, William T. Scherer, and William F. Gibson.
ISBN 978-0-470-00765-5 (cloth)







Rabu, 09 September 2009

Band of Brothers , 3 up 3 down

Film yang baik bukan hanya menghibur pada saat ditonton, tapi juga bisa menginspirasi. Lebih baik lagi jika bisa tetap menginspirasi jauh setelah kita selesai menontonnya. Beberapa waktu lalu saya beruntung sempat melihat filem lama Band of Brothers, persembahan dari Tom Hanks dan Steven Spielberg.

Saat butuh semangat untuk berjuang (pada saat menulis artikel blog ini sebenarnya saya sedang mencari ide untuk tugas kuliah) saya biasanya mengingat :

Three miles up, three miles down!

Band of Brothers
Part one - Currahee
June 4, 1944
Upottery, England
...
Sobel: "Where do we run?"
Easy : "Currahee!"
Sobel: "What's Currahee mean?"
Easy : "We stand alone!"
Sobel: "How far up? How far down?"
Easy : "Three miles up, three miles down!"
Sobel: "Now, what company is this?"
Easy : "Easy Company!"
Sobel: "And what do we do?"
Easy : "Stand alone!"
...

Credit dan link ke artikel orisinal:
http://www.brothers.road-to-liberty.org/



Jumat, 28 Agustus 2009

The purpose of computing is insight !

Bagian 2

Pada tulisan sebelumnya (blog) saya coba menggambarkan bahwa abstraksi bagi para engineer itu juga penting, bukan hanya hal-hal yang semacam 'pekerjaan tangan' semata. Pada bagian kedua ini ingin saya berbagi "Aha! moment" yang saya alami pada saat Pak Soes memberi bagian dua kuliahnya yaitu "2. Apakah komputasi itu ?".

Sebenarnya makna yang dikandung dalam kutipan yang diberikan telah pernah saya dapatkan sebelumnya, tetapi Pak Soes memberikan kutipan yang tepat menggambarkan makna yang saya dapat sebelumnya. Kutipan tersebut berupa kalimat:

"The purpose of computing is insight -- not numbers".

Kalimat tersebut berasal dari buku Numerical Methods for Scientists and Engineers, McGraw-Hill, 1962; second edition 1973. Dover paperback reprint 1985. Buku tersebut ditulis oleh seorang bernama Richard Wesley Hamming (1915-1998), yang barangkali lebih dikenal lewat Hamming Code. Pada cetakan pertama tahun 1962, kalimat yang menjadi motto buku tersebut tercetak tersendiri dan cukup besar pada satu halaman. Sedangkan untuk edisi kedua, terdapat penjelasan pada halaman 3. Pada sub bab "1.1 The Five Main Ideas", Hamming menuliskan,
"Numerical methods use numbers to simulate mathematical processes, which in turn usually simulate real-world situations. This implies there is a 'purpose' behind the computing. To cite the motto of the book, The Purpose of Computing Is Insight, Not Numbers. ...

This computing is, or at least should be, intimately bound up with both the source of the problem and the use that is going to be made of the answers--it is not a step to be taken in isolation from reality."

Berkenaan dengan hal ihwal "kehilangan arah" ini, Prof Soesianto dalam tulisannya mengemukakan dengan sangat baik sebagai berikut:

"... . Di dalam [praktik] dengan mudah seorang peneliti tergelincir ke dalam situasi dimana 'the purpose of computing numbers is not (yet) insight.' "

Kemudian lebih lanjut Pak Soes menyinggung tentang implementasi "computing with words" yaitu fuzzy logic. Ini barangkali karena kata dalam kalimat, bagi manusia, lebih dekat kepada pemahaman yang mendalam terhadap sesuatu daripada sekedar angka-angka.

Yang ingin saya sampaikan kembali pada tulisan bagian dua ini pada dasarnya terangkum pada kalimat "The purpose of computing is insight -- not numbers".
Betapa kita, seperti pendapat Einstein, sering terjebak pada upaya habis-habisan untuk meyempurnaan cara/metoda dan melupakan gambaran besar dan tujuan yang ingin kita capai sebenarnya pada awal-awal kegiatan. Tak aneh, mungkin, mengapa konsep DIKW masih jauh panggang dari api.



Ref:
http://0penmind3d.blogspot.com/2009/08/kuliah-prof-soesianto-komputasi.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Insight
http://www.merriam-webster.com/dictionary/insight
http://en.wikipedia.org/wiki/Richard_Hamming


Kuliah Prof Soesianto, komputasi

Beberapa waktu yang lalu saya beruntung bisa mengikuti kuliah Azas Penyelesaian Masalah dari Prof. Ir. F. Soesianto, B.Sc.E., Ph.D. Kuliah tesebut memang tidak sama dengan kuliah metode numerik atau kalkulus (jika tidak salah Pak Soes juga mengajar kalkulus). Kuliah tersebut bukan 'kuliah how to', sehingga mungkin agak abstrak dan mengambang bagi beberapa. Saya sendiri, jika boleh jujur mengakui, amat menikmati kuliah yang beliau berikan. Sekalipun tiap awal pertemuan  kami pusing kerena oleh beliau kami diberi soal matematika yang konkrit.

Di tiap kuliahnya Pak Soes berusaha memberikan sari pati dari ilmu komputasi, samacam bird view atau beberapa seperti snapshot. Karenanya tentu bukan satu tambah satu yang beliau ajarkan. Ada rekan mahasiswa yang bertanya tetang penerapan konkrit dari yang beliau ajarkan, sebab menurutnya apa yang diajarkan sangat abstrak. Pertanyaan tersebut baik dan sah-sah saja, tetapi menggelitik rasa kekhawatiran lama saya. Untuk contoh kasus itu, rekan yang bertanya tadi saya tahu terlatih benar menghitung dalam teknik listrik, jadi beliau pasti pandai berhitung. Maka justru karena itulah kuliah Pak Soes ini penting.

Orang teknik dapat cenderung terjebak pada rutinitas, termasuk rutinitas komputasi. Orang bisa habis-habisan belajar menjadi programmer yang handal, disainer rangkaian yang handal tapi jadi gampang lupa apa tujuan dari aktivitas yang mereka lakukan. Sepintas saya lihat rekan-rekan yang berkecimpung di bidang pemrograman dan jaringan komputer sebenarnya agak beruntung, mereka seharusnya bisa akrab dengan konsep penjenjangan. Dari seorang programmer / tekniksi kemudian menjadi developer lalu menjadi arsitek. Semakin tinggi posisi melihat, biasanya semakin abstrak, walaupun cakupannya akan semakin lebar. Ya trade-off memang benar-benar terjadi dalam hal ini.

Kuliah yang disampaikan Pak Soes penting untuk menjaga keseimbangan agar mahasiswa tidak terdegradasi derajatnya. Melihat mesin komputer berkemampuan tinggi (katakanlah gamming machine) yang hanya dimanfaatkan sebagai kalkulator dengan aplikasi bawaan Microsoft Windows XP saja kita "gerah", apalagi manusia. Berhitung itu penting bagi engineer dan scientist, tapi bukan cuma itu yang harusnya dilakukan. Bukan cuma itu kemampuan yang harusnya dikembangkan. Dalam pandangan saya implikasi dari upaya mempermudah pekerjaan manusia melalui kemampuan perangkat lunak dan keras adalah manusia semakin diposisikan untuk lebih menjadi manusia. Artinya manusia didorong bekerja lebih optimal di wilayah-wilayah yang belum dapat dilakukan oleh perangkat-perangkat tersebut dengan baik. Misalnya di wilayah-wilayah kompleks seperti kreatifitas dan kebijaksanaan. Sekalipun penting pula untuk dicatat bahwa dalam wilayah-wilayah ini pun manusia telah mulai bersaing dengan perangkat yang telah ditanamkan kecerdasan buatan di dalamnya. Tentu jalan panjang masih harus ditempuh mesing-mesin itu untuk menjadi benar-benar sedekat manusia, tetapi tidaklah cukup alasan untuk manusia lainnya buat bersantai.

Mereka yang memiliki kemampuan komputasi yang hebat dalam otaknya tentu akan sangat terbantu dalam menjalankan profesinya sebagai engineer. Tetapi dengan banyaknya perangkat bantuan semacam Mathematica,MATLAB,Maple,Mathcad,SciLab atau bahkan Octave maka perkerjaan seseorang dalam ranah matematis bisa lebih ringan. Artinya lebih banyak resource yang dapat dialokasikan untuk pekerjaan/bidang yang lain. Mereka yang berkonsentrasi mengembangkan kemampuan komputasi manual tetap akan memiliki keunggulan, tetapi pertanyaannya sekarang adalah seberapa besar marjin keuntungannya ? Dan dengan trade-off seperti apa ? Kapankah kita terakhir kali menggunakan buku tabel Log ?

Hampir semua buku yang mengajarkan penggunaan perangkat lunak (CAD/CAE) yang ditulis dengan baik akan mengajarkan untuk tidak terlampau percaya begitu saja dengan hasil yang disajikan perangkat lunak tersebut. Pengguna diharapkan memiliki dasar yang cukup untuk memahami bagaimana hasil suatu program kumputer didapatkan. Artinya kemampuan pengguna pada sisi manual masih harus tetap dijaga. Disinilah kesetimbangan itu diperlukan, dan kuliah Pak Soes kali ini hadir untuk mengupayakannya. Karena memulai 'perjalanan' dengan benar akan sangat memudahkan bagi si penempuh, mencegahnya untuk menghabiskan terlalu banyak energi berputar-putar haluan.


Menutup bagian pertama tulisan ini izinkan saya menulis kutipan favorit:

"Perfection of means and confusion of goals seem -- in my opinion -- to characterize our age." --Albert Einstein

"Penyempurnaan cara dan kekacauan (kebingungan) tujuan -- dalam pendapat saya -- akan menjadi karakter pada masa kita" --Albert Einstein

Sudah lama ingin ditulis ... akhirnya...

Ref:
inf.uajy.ac.id pengukuhan



Minggu, 16 Agustus 2009

Menjadi seorang engineer, karena cinta atau memang dasarnya masochists ?

dari coretan Note di FB

Ada banyak jalan untuk mencari uang, lebih banyak lagi untuk mencari harta, beberapa jalan lain untuk mencari ketenaran, plus alternatif lainnya untuk mencari wanita. Untuk mencari kekuasaan ada lebih banyak lagi.....so mengapa harus engineering ?

Jika ukurannya uang dan harta lainnya, di dunia umumnya rata-rata penghasilan engineer lebih kecil (bahkan jauh lebih kecil) dari 'ekonom' dan marketer.

Mencari ketenaran ? Kecuali Bill Gates, mungkin gak ada yang seberuntung itu untuk terkenal sedunia ... Paling-paling ilusi sesaat dari titel highschool geek dan nerd.

Mencari wanita ... jelas bukan tipikal rock star. Berlian lebih berkilau, BMW dan Mercy lebih menggoda hasrat. Parahnya lidah bisa jadi terlanjur kaku, kelu untuk meluncurkan gombalan maut. Karena untuk berbohong 'engineer by training' sejati masih memerlukan analisa statistik (masih ingat Lies, Damn Lies and Statistics ? wkwkwk ). Walaupun engineer mungkin sedikit lebih terlatih daripada scientist untuk berbohong.

Menjadi penguasa ? Kekuasaan itu diraih dengan manipulasi ... habis-habisan. Engineer memang terlatih untuk memanipulasi keadaan , but it is a good manipulation. Mewujudkan mimpi dan rancangan, mengatasi kesulitan dan ketidak-idealan. Tapi salah-salah memanipulasi jembatan bisa patah, bangunan bisa runtuh, rangkaian elektronik bisa terbakar, aliran listrik bisa putus, dan orang-orang bisa mati. See ? Limitation, we do have limits, so many of 'em.

Jadi mengapa orang ada yang menjadi engineer ? Ketidak sengajaan, kecelakaan ? Karena hobi ? Karena hasrat ? Karena cinta ? Atau jangan-jangan memang karena pada dasarnya masochist ?

Sesuatu yang mungkin perlu dijabarkan pada jiwa-jiwa muda, masa SMA. Inilah dunia dengan konsekuensinya, apa yang ingin kau cari nak ? Benarkah ini yang kau inginkan ?

Atau meminjam lirik dari soundtrack Transformer 2, "21 Guns" oleh Green Day:

Do you know what's worth fighting for
When it's not worth dying for?
Does it take you breath away
And you feel yourself suffocating?
Does the pain weight out the pride?
...

Yup, they said it very well: " Does the pain weight out the pride? "

Selasa, 04 Agustus 2009

Atmega AVR atmega8535 LCD links

Maaf benar-benar saya tidak mampu membagi waktu dengan lebih baik, untuk saat ini. Maka bagi yang berkepentingan silahkan lihat link-link berikut ini. catatan: links dicari dengan kata kunci berikut di Google:
(avr | atmega | atmega8535) lcd port output

links:
micah
scienceprog
iddhien
azies-tech.com

azog

Bagi mhs, tolong yang rajin membaca. Selamat berjuang untuk TA anda !



Jumat, 17 Juli 2009

Belajar disiplin

Belajar berdisiplin alias mendisiplinkan diri memang terkenal susah. Sebagai mana hal-hal lain dalam hidup selalu ada orang yang memperhatikan cara-cara untuk melakukannya. Seperti biasa pula saya menemukan buah pikiran atau setidaknya penyimpulan yang dilakukan John C. Maxwell , seorang penulis buku, pembicara dan pelatih dalam bidang kepemimpinan, sangat inspiratif

Lima langkah menuju keberhasilan
1. Start Early (mulailah di awal)
2. Start with Yourself (mulailah dari dirimu sendiri)
3. Start Small (mulailah dengan hal-hal yang kecil)
4. Start with the End in View (mulailah dengan merencanakan akhir yang diinginkan / capaian)
5. Start Now (mulailah dari sekarang)

Referensi:
catalystspace john_maxwell_starting


Minggu, 28 Juni 2009

Sekedar cerdas tidaklah cukup

Untuk mahasiswa cerdas di seluruh nusantara

Dr. Otto Octavius to Peter Parker:
Being brilliant's not enough, young man.
You have to work hard.
Intelligence is not a privilege, it's a gift.
And you use it for the good of mankind.


Spider-Man 2 (2004)


Kamis, 25 Juni 2009

Sherlock Holmes by Arthur Conan Doyle download

1000 novels everyone must read: Andrew Lycett on Arthur Conan Doyle | Books | The Observer
Source: www.guardian.co.uk
Andrew Lycett: Arthur Conan Doyle alighted on the modern detective novel in haphazard fashion

Yang berminat silahkan download karya lengkapnya dalam format PDF di sini:
http://spellbreaker.org/~chrender/Sherlock_Holmes/




Kamis, 18 Juni 2009

Invictus by William Ernest Henley

.
I N V I C T U S


by William Ernest Henley
(23 August 1849 – 11 July 1903)

Out of the night that covers me,
Black as the Pit from pole to pole,
I thank whatever gods may be
For my unconquerable soul.

In the fell clutch of circumstance
I have not winced nor cried aloud.
Under the bludgeoning of chance
My head is bloody, but unbowed.

Beyond this place of wrath and tears
Looms but the Horror of the shade,
And yet the menace of the years
Finds, and shall find me, unafraid.

It matters not how strait the gate,
How charged with punishments the scroll
I am the master of my fate:
I am the captain of my soul.

.


Minggu, 07 Juni 2009

Memberi dan menerima

Every day I remind myself that my inner and outer life are based on the labors of other men,
living and dead, and that I must exert myself in order to give in the same measure as I have received
and am still receiving.

Albert Einstein
US (German-born) physicist (1879 - 1955)

"Setiap hari saya mengingatkan diri saya sendiri bahwa kehidupan saya di dalam dan di luar, dibangun di atas hasil pekerjaan orang lain, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal,
karenanya saya harus berusaha sekuat mungkin agar saya dapat memberi kembali sebanyak yang telah saya terima, dan [edited] saya masih dalam posisi menerima dari orang lain"
- Albert Einstein

diambil dari: quotationspage.com

Jumat, 05 Juni 2009

Belajar kalkulus, matematika, dengan video

Untuk yang ingin belajar dengan media audio visual

"We have 700+ videos ... covering everything from basic arithmetic and algebra to differential equations, physics, and finance ... ."

Source: www.khanacademy.org
The Khan Academy is a not-for-profit organization with the mission of providing a high quality education to anyone, anywhere.



Kamis, 09 April 2009

Mempelajari tegangan breakover SCR dengan LTSPICE

Dari gambar karakteristik berikut sebenarnya sudah bisa dilihat gambaran umum kondisi breakover dari SCR.

[Credit update:Ini adalah gambar kurva karakteristik elektrik dari SCR yang saya ambil dari dokumen yang dikeluarkan oleh Teccor (sekarang Littelfuse) pada 2002.]



Untuk lebih mempermudah proses mempelajari karakteristik SCR dan cara penggunaannya dalam sistem maka kali ini saya mempergunakan SCR S6010R dari Teccor/Littelfuse. Prinsip ini berlaku pula untuk SCR jenis lain dan dari produsen yang lain.
Sangat beruntung bahwa untuk mencoba kondisi breakover dari SCR kita tidak harus mencobanya pada komponen sesungguhnya, cukup menggunakan simulator LTSPICE.



Kalau diperhatikan percobaan ini hampir sama dengan yang dilakukan untuk melihat Vthreshold dioda [silahkan melihat tulisan sebelumnya].

Tegangan sumber di-step dari -900VDC sampai 900VDC. Hasilnya sebagai berikut:



Kalau diperhatikan hasil simulasi di gambar ini serupa dengan karakteristik statik dari thyristor. Untuk lebih jelasnya, gambar hasil simulasi LTSPICE akan saya bagi menjadi tiga bagian (dan di-zoom) : yaitu A, B, dan C.

Zoom A:



Pada zoom untuk daerah A, yaitu pada reverse current, bisa dilihat reverse characteristic. Nilai tegangan breakover-nya sekitar -600 V sesuai dengan datasheet. Arus yang besar pada simulasi berada pada avalanche breakdown region.

Zoom B:




Pada zoom untuk daerah B, yaitu pada forward voltage. Perlu diperhatikan bahwa arus pada R2 terjadi akibat tegangan paksa dari sumber yang terus dinaikkan hingga 900 VDC.

Zoom C:



Zoom untuk daerah C. Yang perlu diperhatikan bahwa menurut datasheet sesungguhnya nilai IT(AV), MAX adalah 6.4 A.

Tulisan terkait:
[1] Simulasi Vth dioda dengan LTSPICE
[2] Ringkasan parameter SCR S6010R
[3] Memahami SCR holding current


Kamis, 02 April 2009

Tanpa Solusi

Pertama2 kita memiliki opini, tak berdaya untuk melaksanakan perbaikan, tanpa solusi ...
Lalu kita berkumpul, bergerombol, masih tanpa solusi ...
Akhirnya kita pun bernegara, hampir tanpa budaya mencari solusi ...

Bukankah sejarah telah mencatat kita telah terbiasa menindas para pemberi solusi ?
Bukankah Galileo tidak mati sebagai pencopet ?
Bukankah Inu Kencana dan Khairiansyah Salman cukup mengingatkan kita pada sesuatu ?

Yang kita syukuri akhirnya bukanlah akal dan hati yang masih Tuhan izinkan untuk berfungsi. Yang dapat kita gunakan sebaik-baiknya sebagai tanda syukur.
Yang kita syukuri akhirnya hanyalah tarikan nafas sebagai tanda masih hidup.

Lalu Tuhan membiarkan alam untuk merespon input dari manusia sesuai dengan program yang telah ditetapkannya, jauh masa sebelumnya.
Program yang sesungguhnya telah Tuhan izinkan kita, manusia, untuk mengetahui sebagian kecil algoritmanya, jauh masa sebelumnya.
Lalu kita menyalahkan takdir Tuhan untuk sesuatu yang telah Tuhan izinkan kita, manusia, mengetahui ilmunya.

Tidakkah para atheis itu lebih terbukti bersyukur dengan kemampuan yang dimilikinya, daripada orang-orang yang mengaku-aku beriman ?

Tidakkah dialectician lebih beriman, dengan memperhatikan tanda-tanda alam milik Tuhan ?