Tampilkan postingan dengan label soksial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label soksial. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Juni 2011

Kompleksitas Komputasi Perempuan

Kompleksitas Komputasi Perempuan
by Romi Satria Wahono

Wahai mahasiswaku, bila kau tak paham, bertanyalah kepadaku
Aku bukan dosen terbaik yang pernah kau punya
Aku juga bukan peneliti brilian yang pernah kau temui
Tapi paling tidak tlah kupelajari dan kupahami banyak teori di bidang computing ini

Aku mengerti identifikasi object dan class ala James Rumbaugh dan Grady Booch
Bila kalian bingung dengan software testing atau metrics, jangan ragukan aku …
Aku hapal di luar kepala software engineering body of knowlegde
Dan buku Ian Sommerville dan Roger Pressman adalah sarapan pagiku
Bertanyalah juga tentang UML dan design pattern …
Karena aku belajar pertama kali di tahun ketika keduanya dilahirkan di dunia ini

Aku juga mengerti banyak teoritika artificial intelligence (AI)
Karena tekniknya sering kupakai di riset software testing dan software agent
Aku juga telah membaca buku legendaris AI milik Stuart J. Russel
Dan ku mengerti bagaimana implementasi AI di Java
Aku juga paham pemikiran Lotfi Zadeh tentang logika fuzzy
Yang ternyata tepat untuk menyelesaikan masalah yang uncertainty

Bila kalian mau mengambil topik data mining, tak usah ragu
Aku paham dengan baik algoritma C4.5, nearest neighbor, a priori
Ataupun algoritma clustering ala fuzzy c-means dan k-means

Bila akhirnya dokumen tak terstruktur yang kalian tangani
Juga telah ku khatamkan buku Information Retrieval-nya Christopher D. Manning
Aku mengerti bagaimana mengkonstruksi dan mengkompresi index
Dan aku hapal seluruh model information retrieval
Dari model exact matching ala boolean retrieval atau scoring ala vector space model

Tapi, kuingin kau tahu, wahai mahasiswaku …
Janganlah bertanya kepadaku masalah perempuan dan teknik komputasinya
Karena jujur, akupun tak tahu …
Kompleksitasnya melebihi yang kuduga, melampaui yang ku sangka
Andai kau tahu, perempuan itu makhluk yang paling sulit dikomputasi

Kau beri logika fuzzy, dia akan minta crisp
Kau beri algoritma sorting, dia akan minta random
Ketika kau pikir cukup dengan FIS, maka dia berharap kau menggunakan ANFIS

Model reasoning di kepalanyapun bisa berubah
Kadang rule-based, case-based dan bisa berakhir dengan model-based reasoning
Ketika kau mengira dia penganut madzhab single inheritance
Mau kaupun salah, karena dia kadang bisa menerima multiple inheritance
Paradigma pemrograman di hatinya juga bisa berpindah dengan cepat, secepat kilat
Hari ini procedural, lusa object-oriented dan minggu depan aspect-oriented paradigm

Ketika kau retrieve dia dengan model boolean, dia akan minta model vector space
Ketika kau index dia dengan normalisasi plus algoritma stemming dan lemmatization
Dia akan mentertawakanmu, menganggap dirimu lebay
Dan akhirnya dia malah memilih metode tidak efisien ala incidence matrix

Dan hebatnya …
Tak bisa kau ukur efisiensi algoritma yang dia gunakan dengan notasi Big O
Dan makin aneh kau rasakan …
Karena ketika kau pikir dia tak bisa dipahami dengan logika
Dia akan datang kepadamu dengan pemikiran penuh logika
Dan bahkan teori himpunan matematika

Wahai perempuan …
Andai kau tahu, kalau dalam computational complexity theory …
Ranah kompleksitasmu mungkin di atas NP-hard
Ku mengerti dan pahami bahwa aku tak slalu bisa menaklukkanmu
Karena itu, ajarkan kepadaku …
Metode komputasi yang tepat, yang paling efektif dan efisien …
Yang sebaiknya kugunakan untukmu …

 

http://romisatriawahono.net/2010/12/03/kompleksitas-komputasi-perempuan/


Kamis, 02 Juni 2011

Pelajaran dari orde baru

FB note by Sunu Pradana on Wednesday, June 1, 2011 at 10:42am

Hari-hari ini media televisi nasional marak dengan adegan yang berputar pada soal hukum dan keadilan. Tak sedikit yang berbicara dan berkata,"demi hukum" dan "demi keadilan." Anehnya di media massa nasional banyak anggota masyarakat yang menyuarakan maraknya ketidakadilan.

Agaknya perlu disuarakan lebih nyaring agar mereka yang mengatasnamakan hukum perlu berhati-hati. Perlulah barang sebentar belajar dari nasib aura Pancasila di era reformasi ini. Kalau mau jujur mengakui bagi generasi yang masih tergolong muda-dewasa saat ini, Pancasila dan penataran P4 identik dengan zaman orde baru. Karya rumusan pemikiran hebat pera pejuang kemerdekaan itu identik dengan rezim Presiden Soeharto yang tidak pernah kalah dalam pemilu. Karenanya setelah rezimnya jatuh maka Pancasila ikut terkena imbasnya, tak lagi populer seperti dulu. Segala yang berbau orde baru wajar dianggap hanyalah alat para penguasa untuk mengekalkan kekuasaannya.

Sekarang seharusnya orang-orang harus berhati-hati kalau mau berlindung di balik tameng hukum. Mereka yang mencari keuntungan dengan cara tak benar dengan memanfaatkan hukum serupa dengan mereka yang berusaha memanfaatkan Pancasila dan tata bernegara untuk tetap berkuasa. Kalau sampai bendungan emosi rakyat pecah, terjadi chaos maka hukum hanya akan jadi omong kosong yang tak bernilai di sebagian (besar) masyarakat. Nasibnya akan menjadi "ada tapi tak ditaati."

Hukum bagi khalayak luas yang awam adalah sarana mencapai dan menjaga keadilan. Segala tata formalnya diarahkan untuk menuju keadilan, bukannya diarahkan untuk menekan suatu golongan oleh golongan lain. Kalau hukum sudah berlama-lama "tidak lagi adil" maka tunggulah saatnya pecah kerusuhan massal. Sebab jika piring kosong jauh lebih banyak dari piring yang berisi, amarah itu bertemu bahan bakar tuntuntan perubahan nasib. Orang banyak akan main hakim sendiri, menegakkan keadilan menurut versinya sendiri. Hukum di rimba bisa jadi malah lebih baik, karena belum saya dengar sekumpulan rusa membantai harimau. Sedangkan di perkotaan rakyat bisa menggoyang penguasa.

Silahkan memperhatikan apakah indikasi sosial sekarang sedang menuju ke arah itu atau saya hanya mengutarakan omong kosong belaka. Lihat bagaimana semakin banyak orang yang tidak lagi mau mengalah di jalan raya tidak lagi mempertimbangkan hak orang lain di jalan. Indikasi lainnnya pun semakin banyak, silahkan diperhatikan.

Kalau penyelewengan hukum dari keadilan terus menerus dibiarkan berlaku bebas tanpa kontrol sama sekali dari anggota masyarakat maka resikonya akan ditanggung rakyat itu sendiri.


Senin, 23 Mei 2011

Akademisi dan tukang catut, menurut Tan Malaka

FB note by Sunu Pradana on Thursday, June 18, 2009 at 11:11pm

 

Thesis (10 Juni 1946)
KATA PENGANTAR

 

...
Kita membenarkan sama sekali keperluan latihan akademi dalam ilmu seperti kimia, listrik, dan tehnik. Tetapi inipun tidak berarti bahwa yang ulung dan berhak bersuara dalam ilmu semacam itu mestinya hanya keluaran akademi saja. Cukuplah disini disebutkan bahwa pembikin beberapa teori yang amat berharga dalam hal listrik di jaman listrik ini seperti Michael Faraday Cuma keluaran sekolah sebenggol (rendah) saja. Thomas Edison, penemu (inventor) listrik diusir oleh gurunya dari kelas satu atau dua di sekolah rendah tadi pula karena…..bodoh.

 

Penuh contoh lain-lain dalam ilmu seperti tersebut diatas: tehnik, kimia, matematika ataupun BIOLOGY. Banyak ilmu yang dijalani dan teori penting yang dibentuk oleh hokum akademicia. Sebaliknya banyak pula contoh yang membuktikan bahwa akademici itu Cuma tukang hafal saja, tukang "catut" ilmu orang lain saja. Semuanya membuktikan bahwa "title" itu Cuma satu surat "pas" saja dalam dunia kecerdasan, bukanlah kecerdasan sendiri!
...

 

TAN MALAKA

 

referensi:
[1] http://www.tanmalaka.estranky.cz/clanky/karya-karya-tan-malaka/thesis--_10-juni-1946_

Ilmu, Guru dan Murid

by Sunu Pradana on Thursday, August 26, 2010 at 1:06am

"...
Belajarlah ilmu yang membuatmu merasa damai dan bijaksana.
Rendah hatilah terhadap murid-muridmu dan rendah hatilah terhadap guru-gurumu.
Janganlah menjadi ulama yang terlalu keras sehingga kebodohan kalian akan mengalahkan ilmu yang kalian miliki...." 

--Umar bin Al Khathab

 

quid pro quo:
Dari buku yang bagus disusun oleh Abdurrahman Asy Syarqawi: "Umar bin Al Khathab The Conqueror"
terbitan Sygma Publishing (halaman 425).


NEGERI PARA BEDEBAH

PUISI NEGERI PARA BEDEBAH
karya: Adhie M Massardi

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor
menjatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau menjadi kuli di negeri orang
Yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedangkan rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila melihat negeri dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi, dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan !

courtesy: http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/puisi-negeri-para-bedebah.htm


Dimulai dari yang kecil, kisah Ibnu Musayyab.

FB note
by Sunu Pradana on Thursday, January 21, 2010 at 7:49pm

 

Cita-cita sering tinggi sekali dan sering sangat mulia tapi kadang sering lupa (terutama diriku) bahwa jejak langkah menuju bangunan besar itu dimulai dari hal-hal kecil sehari-hari. Dan tulisan Munawwar Khalil berikut bermanfaat untuk mengingatkan diriku dan siapapun yang berkenan.
"Ibnu Musayyab akhirnya ditolak menjadi perawi (penyampai) hadis Nabi Muhammad Saw. Walau sudah 'berkampanye' secara meyakinkan tentang hadis Nabi yang ia ceritakan, namun tak urung membuatnya 'lolos' jadi perawi hadis. Usut punya usut ternyata alasan 'gugurnya' Ibnu Musayyab karena ada yang menolak. 

 

Orang tersebut menyaksikan dia pernah berbohong. Orang bertanya, kapan, siapa dan dalam hal apa ia berbohong? Yang memberi kesaksian menjawab, suatu ketika saya melihat Ibnu Mushayyab menggenggam pasir sambil bilang kuuur…kuur. Tak pelak ayam-ayamnya berlarian mendekat, mengira akan diberi makanan. Ternyata Ibnu Mushayyab hanya mengecoh ayam-ayam itu dengan pasir, kemudian menangkapnya. Ibnu Mushayyab membohongi ayam-ayamnya. 

 

Karena itu, kata orang itu, Ibnu Mushayyab tidak bisa diterima sebagai perawi hadis. Ia pernah berbohong. Hadis yang disampaikannya, bisa jadi juga bohong."

 

http://www.muhammadiyah.or.id/index.php?Itemid=9&id=1363&option=com_content&task=view

Minggu, 07 November 2010

Potensi radio komunikasi 2m setelah bencana

Akhirnya sampai kembali ke kos :-). Mendengarkan komunikasi di frekuensi 149.070 Mhz yang tertata lebih baik dari tadi siang. Mataku mulai berat, tapi "suara-suara" di kepala sayang kalau hanya diabaikan. Maka mohon maaf kalau agak sedikit ngawur nulisnya.
Kalau banyak kota di Indonesia beberapa waktu yang lalu pernah mengalami fenomena booming pembelian hape, hingga sempat menimbulkan antrian panjang, maka saya menyaksikan hal serupa beberapa hari ini di kota Jogja. Hanya saja orang-orang mengantri bukan untuk membeli hape (telepon selular) tetapi membeli ht. Yah, ht alias handy talky alias radio komunikasi dua arah alias .... hmmm apa lagi ya ? :-D


Hal ini dapat terjadi selain karena (jelas) kekhawatiran masyarakat terhadap resiko bencana juga karena harga perangkatnya yang juga relatif terjangkau. Harganya sengaja tak saya sebutkan karena alasan ogah memperparah keadaan , hehehe. Di satu tempat penjualan saja saya perkirakan dalam sehari mampu menjual lebih dari 15 unit dari berbagai produsen.


Lepas dari hak kita, masyarakat, untuk memperoleh informasi, ini bisa menjadi potensi masalah atau malah potensi pemberdayaan (solusi). Sekarang saja dalam keadaan bencana ada orang yang begitu sangat teganya mengganggu jalur komunikasi. Istilahnya ngejam, memancarkan / meradiasikan gelombang elektromagnetik sehingga pemancar lain tidak dapat berkomunkasi dengan baik. Nah apalagi kalau dalam keadaan tidak bahaya ?


Tetapi belajar dari berbagai bencana di negeri ini, maka tidak pada tempatnya masyarakat sekeliling Gunung Merapi terlena dengan kemudahan komunikasi lewat operator telepon selular. Masyarakat harus bisa survive bahkan tanpa jaringan telepon selular sekalipun. Karenanya ibarat dua sisi mata uang, potensi besar gangguan ini bisa dikelola dan diolah untuk berubah menjadi sesuatu yang positif, sebagai sebuah solusi.  Sebagai contoh nyata, bencana Gunung Merapi 2010 bisa disebut sebagai fenomena #jalinmerapi (Jalin Merapi) dan #BALERANTE, dua kata yang akrab di sebagian masyarakat Jogja dan Jateng yang "melek" info Merapi. Potensi adalah peluang yang perlu ditangkap oleh ORARI dan RAPI.


Ratusan orang pemilik ht yang baru ini bisa menjadi potensi masalah yang besar atau malah menjadi kekuatan penanggulangan berbagai permasalahan sosial yang makin hari makin pelik. Ini kesempatan bagi para pengurus ORARI dan RAPI untuk menunjukkan semangat amatir radio sejati. Jangan sampai olok-olok yang dulu sekali saya dengar tetap terus menghantui, bahwa perlu dana yang relatif besar untuk menjadi seorang anggota. Ini potensi besar, ke arah mana menujunya bergantung banyak dari kepedulian pihak-pihak yang paling berkepentingan.

10:00 PM sampai 01:19 PM [yang benar AM, maaf mengantuk :-)]

Jumat, 29 Oktober 2010

Introverted iNtuitive Thinking Judging

Lumayan untuk membantu mengurai benang kusut.
catatan: untuk keterangan lebih lengkap silahkan kunjungi situs aslinya

Amplify’d from typelogic.com

Introverted iNtuitive Thinking Judging

by Marina Margaret Heiss

To outsiders, INTJs may appear to project an aura of "definiteness", of self-confidence. This self-confidence, sometimes mistaken for simple arrogance by the less decisive, is actually of a very specific rather than a general nature; its source lies in the specialized knowledge systems that most INTJs start building at an early age. When it comes to their own areas of expertise -- and INTJs can have several -- they will be able to tell you almost immediately whether or not they can help you, and if so, how. INTJs know what they know, and perhaps still more importantly, they know what they don't know.

INTJs are perfectionists, with a seemingly endless capacity for improving upon anything that takes their interest. What prevents them from becoming chronically bogged down in this pursuit of perfection is the pragmatism so characteristic of the type: INTJs apply (often ruthlessly) the criterion "Does it work?" to everything from their own research efforts to the prevailing social norms. This in turn produces an unusual independence of mind, freeing the INTJ from the constraints of authority, convention, or sentiment for its own sake.

INTJs are known as the "Systems Builders" of the types, perhaps in part because they possess the unusual trait combination of imagination and reliability. Whatever system an INTJ happens to be working on is for them the equivalent of a moral cause to an INFJ; both perfectionism and disregard for authority may come into play, as INTJs can be unsparing of both themselves and the others on the project. Anyone considered to be "slacking," including superiors, will lose their respect -- and will generally be made aware of this; INTJs have also been known to take it upon themselves to implement critical decisions without consulting their supervisors or co-workers. On the other hand, they do tend to be scrupulous and even-handed about recognizing the individual contributions that have gone into a project, and have a gift for seizing opportunities which others might not even notice.

In the broadest terms, what INTJs "do" tends to be what they "know". Typical INTJ career choices are in the sciences and engineering, but they can be found wherever a combination of intellect and incisiveness are required (e.g., law, some areas of academia). INTJs can rise to management positions when they are willing to invest time in marketing their abilities as well as enhancing them, and (whether for the sake of ambition or the desire for privacy) many also find it useful to learn to simulate some degree of surface conformism in order to mask their inherent unconventionality.

Personal relationships, particularly romantic ones, can be the INTJ's Achilles heel. While they are capable of caring deeply for others (usually a select few), and are willing to spend a great deal of time and effort on a relationship, the knowledge and self-confidence that make them so successful in other areas can suddenly abandon or mislead them in interpersonal situations.

This happens in part because many INTJs do not readily grasp the social rituals; for instance, they tend to have little patience and less understanding of such things as small talk and flirtation (which most types consider half the fun of a relationship). To complicate matters, INTJs are usually extremely private people, and can often be naturally impassive as well, which makes them easy to misread and misunderstand. Perhaps the most fundamental problem, however, is that INTJs really want people to make sense. :-) This sometimes results in a peculiar naivete', paralleling that of many Fs -- only instead of expecting inexhaustible affection and empathy from a romantic relationship, the INTJ will expect inexhaustible reasonability and directness.

Probably the strongest INTJ assets in the interpersonal area are their intuitive abilities and their willingness to "work at" a relationship. Although as Ts they do not always have the kind of natural empathy that many Fs do, the Intuitive function can often act as a good substitute by synthesizing the probable meanings behind such things as tone of voice, turn of phrase, and facial expression. This ability can then be honed and directed by consistent, repeated efforts to understand and support those they care about, and those relationships which ultimately do become established with an INTJ tend to be characterized by their robustness, stability, and good communications.

Read more at typelogic.com

 

 


Minggu, 24 Oktober 2010

Guru TIK Brebes Menggebrak dengan Open Source

Ardhi Suryadhi - detikinet

Amplify’d from www.detikinet.com

Suasana Seminar Open Source di Brebes (dok. pribadi onno)

 

Materi pelatihan mulai dari pengenalan open source software, menginstalasi Distro SchoolOnOffLine supaya sekolah bisa memberikan pelajaran internet tanpa internet, memperkenalkan cara membuat Blog, Wiki, e-mail lokal di sekolah hingga aplikasi pendidikan yang dibundel dalam IPTEKNUX.

Beberapa hal yang menarik perhatian para peserta mulai dari TuxPaint, TuxMath untuk anak SD belajar matematika, Kgeography untuk SMP belajar Geography, KANAGRAM untuk belajar bahasa Inggris hingga yang canggih seperti Stellarium atau Kstar untuk mempelajari alam semesta, Scilab untuk membuat virtual laboratorium, Gchemical untuk merancang molekul kimia dan lainnya.

"Semua dapat diperoleh secara cuma-cuma karena menggunakan software open source," tukas Onno, kepada detikINET, Minggu (24/10/2010).

"Dengan menggunakan open source, pengguna dapat mengembangkan dan memodifikasi sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pengguna," imbuhnya.

Dengan semakin siapnya para guru dan sekolah di Kabupaten Brebes dengan sistem operasi open source tentu akan memudahkan adopsi Buku Sekolah Elektronik TIK (http://bse.telkomspeedy.com/e-buku) dalam mata pelajaran TIK.

Bahkan bukan mustahil dalam waktu dekat soal ulangan dan ujian TIK di Kabupaten Brebes akan berbasis open source dan tidak lagi mengacu pada software proprietary.

"Semoga hal ini dapat diikuti oleh MGMP TIK di Kabupaten dan Kecamatan lain di Indonesia sehingga dapat melepaskan bangsa Indonesia dari ketergantungan pada software proprietary yang menyedot devisa," pungkas Onno.Read more at www.detikinet.com

 

 


Kamis, 21 Oktober 2010

Militer Israel Dilarang Ngetweet

Cukup cerdas menyikapi kecenderungan manusia :-)

Pemimpin yang Bangga dan Bisa Dibanggakan

Rabu, 20/10/2010 14:45 WIB
Amplify’d from www.detiknews.com
Sembilan ratus tujuh puluh tiga tahun yang lalu di sebuah desa di Krian, Jawa Timur, sebuah prasasti didirikan. Prasasti berupa batu kali hitam ini berbicara tentang seorang pemimpin yang gelisah.
Pada waktu itu kehidupan memang sedang tidak mudah, banjir yang berkepanjangan di Bengawan Brantas menjebol tanggul-tanggul rakyat. Di mana-mana sawah rusak. Panen gagal dan kehidupan rakyat di hilir Bengawan Brantas begitu sengsara. Raja Airlangga, si pemimpin yang gelisah ini kemudian membuat tanggul besar didaerah waringin sapta, yang di kerjakan dengan giat bersama rakyatnya. Dalam situasi sulit ini pendapatan negara dari sektor pajak berkurang drastis, karena para petani yang merupakan penyumbang pajak sawahnya banyak yang rusak. Dan di sinilah rasa bangga dan cinta tanah air menemukan pembuktiannya. Raja Airlangga menerapkan kebijakan pengurangan pajak untuk daerah-daerah yang sering terkena be ncana, justru pada saat penerimaan pajak negara sedang turun. Ia ingin perekonomian rakyatnya segera pulih dan bangkit.
Negeri kita adalah negeri yang sangat kaya, namun karena sedikitnya pemimpin negeri yang berbangga (dalam definisi sikap) maka dengan mata telanjang di mana-mana kita bisa lihat orang hidup terlunta-lunta. Mungkin ada baiknya kita ingat pesan Gandhi untuk menyadari betapa dunia terbatas: Bumi cukup untuk kebutuhan tiap orang, namun tak akan cukup untuk ketamakan beberapa orang. Melihat bencana banjir yang tak kunjung usai, barangkali ada baiknya kita belajar tentang kearifan dari sebuah prasasti batu kali.
*) Fajar Subchan, Penulis, Anak Bangsa
See more at www.detiknews.com

The obsessed Scrat

Dua sisi Scrat, sisi sangat "pelit" dan sisi Scrat sang pejuang.

"Scrat is obsessed with acorns, constantly putting his life in danger to obtain and defend them."
Amplify’d from en.wikipedia.org
Scrat is a "saber-toothed squirrel" that appears in the Ice Age film series, from the 2002 film Ice Age and its sequels Ice Age: The Meltdown and Ice Age: Dawn of the Dinosaurs. Scrat is obsessed with acorns, constantly putting his life in danger to obtain and defend them. He has his own stories in the film, independent of the main plot, which are parallel with the journeys of the other main characters, causing them to interact with him at times.
Gone Nutty.jpg
See more at en.wikipedia.org

Sabtu, 16 Oktober 2010

Bacalah .... ya kami dengar tapi kami malas membaca

Kisah ini adalah salah satu kisah yang paling membekas dalam ingatan saya. Kalaupun tidak sampai "titik dan komanya" saya ingat, esensi cerita ini sungguh membekas. Sudah lama ingin saya sampaikan, sayang buku versi terjemahannya tak lagi saya temukan, untungnya versi ebooknya sekarang tersedia.

Ini cerita yang ironis, tapi mengandung pelajaran yang tinggi sekali nilainya.
Moshe Dayan, seorang panglima dari angkatan bersenjata Israel yang merencanakan dan melaksanakan eksekusi operasi 'The Sinai Campaign of 1956', mengungkapkan secara menyeluruh mengenai rencana induk (masterplan) peperangan tersebut dalam buku biografinya yang ditulis oleh Shabtai Teveth.

Di halaman 267 Dayan mengungkapkan peta rencana pergerakan tentara Israel. Bahkan karena sangat gembiranya dengan hasil yang dicapai dari peperangan itu ia sesumbar kalau suatu hari nanti perlu berperang lagi dengan negara-negara Arab maka ia akan mengulangi lagi semua manuver peperangan titik demi titik seperti yang telah diungkap dalam bukunya itu. Moshe Dayan menepati janjinya, ia menghajar telak tentara Mesir pada 1967 dengan gaya textbook.

Moshe Dayan sangat paham tidak bakal ada orang Arab yang akan membaca buku biografinya atau buku-buku lain tentang Yahudi dan/atau ditulis oleh orang Yahudi. Tidak peduli bahwa buku-buku tersebut sangat mungkin berisi informasi tentang rencana-rencana kaum Yahudi terhadap orang Arab atau bahkan detail rencana peperangan seperti yang terdapat dalam buku biografinya sendiri.

Perintah pertama yang turun adalah untuk membaca, "Bacalah!" dan dunia kaum muslim menterjemahkannya dalam praktik menjadi "Kami tidak akan membaca!" [terj]

Di buku itu Ahmed Deedat menceritakan sementara banyak orang Arab terbukti "cuek bebek", sebaliknya tentara Israel terlatih secara teknis dengan baik. Bahkan mereka menganggap musuh mereka, orang-orang Arab, sebagai golongan yang mempunyai keunggulan fisik lebih baik. Dengan pengakuan kesadaran akan kelemahan yang dimiliki inilah tentanra Israel mencari peluang untuk unggul, misalnya dalam hal penggunaan teknologi.

Masih 'pengen' menang dari Yahudi ???

Dari buku (ebook) tulisan Ahmed Deedat "ARABS AND ISRAEL - CONFLICT OR CONCILIATION?" :
Moshe Dayan, the Commander-in-Chief of the Israeli Army who planned and executed 'The Sinai Campaign of 1956', tells it all in his biography by Shabtai Teveth, about his masterplan. On page 267 Dayan discloses a map of the planned Israeli advances, and was so tickled by his achievement, that he boasts that if it became necessary to have another go at the Arabs, he would point by point repeat the manoeuvres. And true to his promise he cut the Egyptian Army to shreds in 1967 - textbook style.

Dayan knew too well that no Arab would ever read his biography or any other book about the Jews by the Jews, to learn what their Semitic cousins were planning for them. MUSLIMS WILL NOT LEARN: In the very first word of the Quranic Revelation, God Almighty commanded the Prophet ( Peace be upon him) and through him commanded his followers 'Read!' To which the Muslim world in practice says 'We will not read!'

Will we ever benefit from the open secrets revealed by the Jews in their own literature? It does not look as if we are ready to learn.What is the reason that we are discomfitured by the Jews time after time ?

The answer is simply superior planning and weaponry. In short, technology! 'And technology is not a closed shop...' I told the Jewish boys and girls at the Rondebosch meeting, after the 'Six Day War' in 1967.

Seven years later Martin Zucker reporting from Tel Aviv repeated my words almost word for word:

THE AVERAGE ARAB SOLDIER, ACCORDING TO THE ISRAELIS, CONTINUES TO BE AN INDIVIDUAL COMING FROM A PEASANT BACKGROUND WITH ABOUT SIX YEARS OF SCHOOLING ... THE AVERAGE ISRAELI SOLDIER-CONSCRIPT, IN COMPARISON, HAS EIGHT TO 12 YEARS OF SCHOOLING, PART OF IT TECHNICAL.........
....THE ISRAELIS RATE THEIR ENEMIES (the Arabs) AS BETTER PHYSICAL SPECIMENS THAN THEMSELVES.
'The Daily News' May 29, 1974.
Ref:
[1] http://en.wikipedia.org/wiki/Ahmed_Deedat

Teori dan Praktik "Merebus Kodok"


Ada kisah fabel menarik yang diceritakan seorang sahabat, Teori Merebus Kodok. Menurut ref [2] dan [3], eksperimen ini sulit untuk selalu memberikan hasil yang sama pada tiap kodok (juga tentang kecepatan kenaikan suhu tiap percobaan). Sungguh pun demikian moral dari cerita ini tetap valid.

Ceritanya konon, kalau kita menceburkan kodok/katak ke dalam air yang mendidih maka kodok itu akan langsung loncat (misalnya keluar dari dalam panci). Tetapi kalau kodok tersebut dimasukkan ke dalam air dingin yang kemudian [sangat] perlahan dipanaskan maka kodok itu tidak akan merasakan adanya bahaya dan akan terebus sampai mati.

Penerapannya pada kehidupan manusia adalah bahwa manusia seringkali tidak mampu untuk bereaksi terhadap perubahan yang signifikan tetapi terjadi secara berpahap atau pelan-pelan (gradual). Sayangnya teori ini bisa dipraktikan untuk hal-hal yang secara moral umum salah dan merugikan.

Misalnya kalau aliran listrik dimatikan total selamanya maka bisa jadi akan timbul kerusuhan masal. Tapi kalau dilakukan bertahap maka reaksinya bisa jadi berbeda. Umpamanya sebulan sekali, lalu dua minggu sekali, lalu seminggu sekali ... dst. Tunggu dan biarkan orang terbiasa, menerima dan pasrah dalam satu keadaan sebelum mengubahnya menjadi keadaan yang lebih buruk.

Orang zaman dulu suka mengatakan,"diberi hati minta jantung" kalau sekarang lain lagi :-). Injak dulu kakinya, biarkan ia terbiasa baru injak kepalanya. Sadis memang, tapi bisa dibuktikan di laboratorium hidup sehari-hari. Itulah sebabnya cara-cara lama yang mengandalkan akal sehat, kesantunan dan tepo seliro dari orang lain tampaknya sudah mulai hilang. Sudah tumpul kepedualiannya kecuali pada kepentingannya sendiri. Begitu tersenggol langsung bacok, supaya orang lain itu tidak berani menabrak di lain hari...sedihnya. Sungguh sedih tapi tampaknya itu cara untuk bisa survive di sini.

Kamar saya yang tidak bisa dibilang rapi itu sudah menjadi bagian dari hidup :-). Maka bila suatu waktu konsentrasi saya tidak ada untuk membersihkannya, orang akan melihatnya seperti kapal pecah sedangkan saya masih merasa biasa saja.

Kalau resistensi terhadap hal-hal dalam hidup seperti aliran listrik mulai sering padam, aliran air mulai ngadat, penegak hukum dan penguasa mulai zalim sudah hilang, maka jangan terkejut kalau akhirnya akan terbiasa. Bahkan ketika keadaan menjadi sangat buruk, kelumpuhan itu tidak akan gampang terobati.
Kemerdekaan sampai reformasi itu tidak lahir dari penerimaan terhadap keadaan dan pembiaran.

Dari Wikipedia cerita dalam bahasa aslinyanya seperti ini:
The boiling frog story is a widespread anecdote describing a frog slowly being boiled alive. The premise is that if a frog is placed in boiling water, it will jump out, but if it is placed in cold water that is slowly heated, it will not perceive the danger and will be cooked to death. The story is often used as a metaphor for the inability of people to react to significant changes that occur gradually.

Ref:
[1] http://budihartono.wordpress.com/2008/06/25/katak/
[2] http://en.wikipedia.org/wiki/Boiling_frog
[3] http://www.snopes.com/critters/wild/frogboil.asp
[4] http://www.lewrockwell.com/yates/yates38.html
[5] http://glasshouse.waggeneredstrom.com/blogs/frankshaw/archive/2007/10/21/boiling-frogs.aspx

Selebrasi untuk yang terlewati [ulang tahun]

Aku jarang sekali ikut dalam selebrasi
Untuk tahun-tahun yang terlewati
Untuk bulan-bulan yang tak kembali
Untuk detik-detik yang belum tentu punya arti

Aku ingin merayakan kesempatan yang bisa kita nanti
Berputar bersama bulan dan mentari
Melewati hari dengan berlari
Sampai kita tak bernafas lagi

Rabu, 31 Maret 2010

Sosok sang pahlawan


TEACHER HERO: JAIME ESCALANTE

by Brandy from Raleigh

What is a hero? A hero may be defined as something different to different people. To some, a hero may simply be someone who was there for him or her at a certain place and time. To someone else, a hero might be someone who attempted to save the world. To me, Jaime Escalante was a hero in a simpler way. His perseverance outshined above all and his determination inspired others to accomplish great things.

Jaime Escalante was born in La Paz, Bolivia. He first started teaching physics and mathematics. He taught there for 9 years but then wanted to move away to the United States and teach here. He attended the Universidad of Puerto Rico where he chose to take science and math classes. He longed to teach in America, but, being from Bolivia, he could not speak English. His love of teaching encouraged him to go back to school and learn English in order to be able to teach in America. Escalante also chose to study at Pasadena City College to earn a degree in electronics. He took a day job, and continued studying in order to get a mathematics degree. It took Jaime eight years to achieve his goals and teach in the U.S.  



[To continue reading the complete story plase be kind to see the original site.]

Pengaruh dahsyat dari seorang guru

Bagi yang pernah (atau malah sering) menonton film Stand and Deliver, pasti akan ingat akan sosok seorang guru yang sangat berpengaruh, Jaime Escalante. Beliau menjadi istimewa karena pengabdiannya tidak menjadikan siswa jenius menjadi seorang yang lebih jenius lagi. Tetapi beliau mengajarlkan matematika kepada para siswa yang memiliki berbagai keterbatasan di sebuah sekolah menengah atas di kota Los Angeles.

Menarik dan bermanfaat untuk mengetahui bagaimana pendapatnya tentang menjadi seorang guru.




Selasa, 30 Maret 2010

Bersama dalam kebaikan dunia perlu lebih dari satu pola

Ini petikan wawancara singkat di atas panggung, sewaktu Temple Grandin memberikan ceramah singkat.
...
Chris Anderson: Thank you so much for that. You know, you once wrote, I like this quote, "If by some magic, autism had been eradicated from the face of the Earth, then men would still be socializing in front of a wood fire at the entrance to a cave."

Temple Grandin: Because who do you think made the first stone spears? The Asperger guy. And if you were to get rid of all the autism genetics there would be no more Silicon Valley, and the energy crisis would not be solved. (Applause)
...

Sumber:
http://dotsub.com/
http://www.ted.com/

Sabtu, 27 Maret 2010

Perusuh Rakyat

[diambil dari kisah Nasrudin Hoja]
 
Kebetulan Nasrudin sedang ke kota raja. Tampaknya ada kesibukan luar biasa di istana. Karena ingin tahu, Nasrudin mencoba mendekati pintu istana. Tapi pengawal bersikap sangat waspada dan tidak ramah.

"Menjauhlah engkau, hai mullah!" teriak pengawal. [Nasrudin dikenali sebagai mullah karena pakaiannya]

"Mengapa ?" tanya Nasrudin.

"Raja sedang menerima tamu-tamu agung dari seluruh negeri. Saat ini sedang berlangsung pembicaraan penting. Pergilah !"

"Tapi mengapa rakyat harus menjauh ?"

"Pembicaraan ini menyangkut nasib rakyat. Kami hanya menjaga agar tidak ada perusuh yang masuk dan mengganggu. Sekarang, pergilah !"

"Iya, aku pergi. Tapi pikirkan: bagaimana kalau perusuhnya sudah ada di dalam sana ?" kata Nasrudin sambil beranjak dari tempatnya.

Jumat, 26 Maret 2010

Jendral sekalipun

Sebenarnya melegakan ketika mengetahui bahwa seorang jendral sekalipun tidaklah kebal hukum. Ia bisa dituntut di muka hukum sama seperti pemulung dan tukang becak.
Tapi juga mengecilkan hati ketika bahkan seorang jendral sekalipun bisa diseret-seret ketika ingin mengungkapkan kebenaran. Benarlah menurut berita di sebuah situs online, bagaimana rakyat kecil berani mengadu ?
Semoga yang diungkap adalah kebenaran, sehingga akan menjadi pembelajaran. Tidaklah perlu bersih suci untuk melakukannya, bahkan tidak perlu menjadi seorang pahlawan. Karena kebenaran yang telah terperiksa itu awalnya bisa muncul dari siapa saja.
Repot sungguh kau kebenaran itu terhalang bukti material. Sungguhpun itu perlu untuk menghindari fitnah dan salah putusan. Tapi tidakkah dapat dimulai dengan hati nurani dan akal sehat ? Jangan sampai secepatnya berbalik arah kemudian, dan menjadi tontonan rakyat. Sulit sungguh kalau setiap pengaduan harus dilengkapi dengan bukti kwitansi dan rekaman audio visual. :-)