Jumat, 28 Agustus 2009

Kuliah Prof Soesianto, komputasi

Beberapa waktu yang lalu saya beruntung bisa mengikuti kuliah Azas Penyelesaian Masalah dari Prof. Ir. F. Soesianto, B.Sc.E., Ph.D. Kuliah tesebut memang tidak sama dengan kuliah metode numerik atau kalkulus (jika tidak salah Pak Soes juga mengajar kalkulus). Kuliah tersebut bukan 'kuliah how to', sehingga mungkin agak abstrak dan mengambang bagi beberapa. Saya sendiri, jika boleh jujur mengakui, amat menikmati kuliah yang beliau berikan. Sekalipun tiap awal pertemuan  kami pusing kerena oleh beliau kami diberi soal matematika yang konkrit.

Di tiap kuliahnya Pak Soes berusaha memberikan sari pati dari ilmu komputasi, samacam bird view atau beberapa seperti snapshot. Karenanya tentu bukan satu tambah satu yang beliau ajarkan. Ada rekan mahasiswa yang bertanya tetang penerapan konkrit dari yang beliau ajarkan, sebab menurutnya apa yang diajarkan sangat abstrak. Pertanyaan tersebut baik dan sah-sah saja, tetapi menggelitik rasa kekhawatiran lama saya. Untuk contoh kasus itu, rekan yang bertanya tadi saya tahu terlatih benar menghitung dalam teknik listrik, jadi beliau pasti pandai berhitung. Maka justru karena itulah kuliah Pak Soes ini penting.

Orang teknik dapat cenderung terjebak pada rutinitas, termasuk rutinitas komputasi. Orang bisa habis-habisan belajar menjadi programmer yang handal, disainer rangkaian yang handal tapi jadi gampang lupa apa tujuan dari aktivitas yang mereka lakukan. Sepintas saya lihat rekan-rekan yang berkecimpung di bidang pemrograman dan jaringan komputer sebenarnya agak beruntung, mereka seharusnya bisa akrab dengan konsep penjenjangan. Dari seorang programmer / tekniksi kemudian menjadi developer lalu menjadi arsitek. Semakin tinggi posisi melihat, biasanya semakin abstrak, walaupun cakupannya akan semakin lebar. Ya trade-off memang benar-benar terjadi dalam hal ini.

Kuliah yang disampaikan Pak Soes penting untuk menjaga keseimbangan agar mahasiswa tidak terdegradasi derajatnya. Melihat mesin komputer berkemampuan tinggi (katakanlah gamming machine) yang hanya dimanfaatkan sebagai kalkulator dengan aplikasi bawaan Microsoft Windows XP saja kita "gerah", apalagi manusia. Berhitung itu penting bagi engineer dan scientist, tapi bukan cuma itu yang harusnya dilakukan. Bukan cuma itu kemampuan yang harusnya dikembangkan. Dalam pandangan saya implikasi dari upaya mempermudah pekerjaan manusia melalui kemampuan perangkat lunak dan keras adalah manusia semakin diposisikan untuk lebih menjadi manusia. Artinya manusia didorong bekerja lebih optimal di wilayah-wilayah yang belum dapat dilakukan oleh perangkat-perangkat tersebut dengan baik. Misalnya di wilayah-wilayah kompleks seperti kreatifitas dan kebijaksanaan. Sekalipun penting pula untuk dicatat bahwa dalam wilayah-wilayah ini pun manusia telah mulai bersaing dengan perangkat yang telah ditanamkan kecerdasan buatan di dalamnya. Tentu jalan panjang masih harus ditempuh mesing-mesin itu untuk menjadi benar-benar sedekat manusia, tetapi tidaklah cukup alasan untuk manusia lainnya buat bersantai.

Mereka yang memiliki kemampuan komputasi yang hebat dalam otaknya tentu akan sangat terbantu dalam menjalankan profesinya sebagai engineer. Tetapi dengan banyaknya perangkat bantuan semacam Mathematica,MATLAB,Maple,Mathcad,SciLab atau bahkan Octave maka perkerjaan seseorang dalam ranah matematis bisa lebih ringan. Artinya lebih banyak resource yang dapat dialokasikan untuk pekerjaan/bidang yang lain. Mereka yang berkonsentrasi mengembangkan kemampuan komputasi manual tetap akan memiliki keunggulan, tetapi pertanyaannya sekarang adalah seberapa besar marjin keuntungannya ? Dan dengan trade-off seperti apa ? Kapankah kita terakhir kali menggunakan buku tabel Log ?

Hampir semua buku yang mengajarkan penggunaan perangkat lunak (CAD/CAE) yang ditulis dengan baik akan mengajarkan untuk tidak terlampau percaya begitu saja dengan hasil yang disajikan perangkat lunak tersebut. Pengguna diharapkan memiliki dasar yang cukup untuk memahami bagaimana hasil suatu program kumputer didapatkan. Artinya kemampuan pengguna pada sisi manual masih harus tetap dijaga. Disinilah kesetimbangan itu diperlukan, dan kuliah Pak Soes kali ini hadir untuk mengupayakannya. Karena memulai 'perjalanan' dengan benar akan sangat memudahkan bagi si penempuh, mencegahnya untuk menghabiskan terlalu banyak energi berputar-putar haluan.


Menutup bagian pertama tulisan ini izinkan saya menulis kutipan favorit:

"Perfection of means and confusion of goals seem -- in my opinion -- to characterize our age." --Albert Einstein

"Penyempurnaan cara dan kekacauan (kebingungan) tujuan -- dalam pendapat saya -- akan menjadi karakter pada masa kita" --Albert Einstein

Sudah lama ingin ditulis ... akhirnya...

Ref:
inf.uajy.ac.id pengukuhan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar