Senin, 18 Mei 2009

Makan enak di Jogja, oseng oseng mercon

Tadi malam melanjutkan "perjalanan spiritual" (maksud sebenarnya : mencari-cari makan) di Yogyakarta, saya "membajak" sepupu untuk mencoba oseng-oseng mercon. Makan enak dan tidak mahal bisa menjadi obat pasca stress buat saya, karena itu...jadilah kami berangkat.

Sebagaimana banyak makanan murah dan enak di Yogya, oseng mercon bukanya malam hari. Letak tendanya di Jl. K.H. Ahmad Dahlan, persisnya di lampu merah sebelah barat, dekat tikungan ke Jl. Wakhid Hasyim.

Saya, sebagai yang bukan orang Jogjakarta menyebut deretan ruas jalan berikut sebagai ruas jalan pemotong kota Yogya (karena letaknya di peta seolah-olah lurus memotong kota), jalan2 tersebut adalah (dari paling timur lurus ke barat) : Jl. Wonocatur, Jl, Kusuma Negara, Jl.Sultan Agung, Jl. Senopati, Jl.K.H. Ahmad Dahlan, Jl. Wirobrajan, Jl. R.E. Martadinata.

Kalau mau ke oseng - oseng mercon dari Jl. Malioboro, tinggal pergi lurus ke selatan melewati Jl. Ahmad Yani lalu belok ke barat (belok kanan) ke Jl. K.H Ahmad Dahlan. Letak tendanya (kalau kita menghadap ke barat) di kanan jalan.



Mejeng dulu di depan tenda warung, jarang-jarang saya berani difoto.


Dengan Rp.7000,- (waktu saya post ini), kita bisa menikmati masakan oseng-oseng daging yang super pedas (karena itu diberi TM : mercon). Kalau perut kurang bersahabat dengan yang super pedas, ada solusi yang bisa dicoba yaitu dengan makan NORIT (activated carbon) terlebih dahulu. Biasanya di toko-toko obat banyak tersedia, dan NORIT sebenarnya bukan obat karenanya bertanda hijau. Untuk saya ini benar-benar solusi untuk menikmati pedasnya oseng mercon.

Masnya yang jualan, di rombong itu anda juga bisa pesan makanan tambahan lain, usus misalnya.

Lumayan sambil nunggu kepastian tiket pulang yang sudah diusahakan saudara sepupu saya yang baik, kami melanjutkan perburuan makanan. Klo besok sudah bisa pulang, maka malam ini jatahnya nyari "sajen" buat perut yang terakhir di Yogya.

Angkringan, anyone ?

Selamat hunting panganan di kota Yogyakarta.

Selasa, 12 Mei 2009

Konvoi becak turis


Seragam pengayuh becak di bagian belakang tulisannya "kiamat makin dekat ?"

Minggu, 03 Mei 2009

Siapa bilang yang lebih muda selalu lebih jelek ?

Tidak bisa dipungkiri bahwa secara umum karena faktor dimensi waktu, seorang yang lebih muda pada umumnya memiliki pengalaman yang lebih sedikit dari orang yang lebih tua yang bergelut di bidang yang sama. Meskipun sering kali terjadi banyak perkecualian.

Namun sejarah juga telah memngajarkan bahwa faktor pengalaman (yang sebagian darinya menjadi pengetahuan) semata tidaklah selalu mnjadi penentu keberhasilan. Faktor pengalaman tidak sanggup berdiri sendiri untuk mewujudkan keberhasilan dalam pencapaian. Ada faktor-faktor lain yang sangat diperlukan untuk sebuah pencapaian, misalnya; integritas, kengototan, ketabahan dan komitmen.

Seiring dengan bertambahnya usia (atau berkurangnya, tergantung dari cara melihatnya), umumnya manusia memiliki lebih banyak komitmen; komitmen pada istri/suami, pada anak-anak, pada keluarga besar, dan seterusnya. Makin tua, kita manusia, memang didorong oleh alam untuk cenderung bijaksana. Pandangan tambah luas dan pegetahuan lebih banyak. Tetapi makin tua artinya secara alami manusia secara umum menjadi kurang berani mengambil resiko, kurang nekat. Itulah sebabnya perimbangan tua dan muda menjadi penting untuk suatu kerja pencapaian.




Kabar terbaru yang yang menggembirakan yang saya baca, selain tentang Anies Baswedan, Ph.D., adalah tentang Firmanzah, Ph.D. Ia yang belum genap berumur 33 tahun menjadi seorang dekan di UI, tepatnya Dekan FEUI 2009-2013.

Sungguh membahagiakan bahwa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, setidaknya dalam hal ini, telah membuktikan diri menjadi suatu kampus yang menjadikan IPTEK sebagai panglima. Bukan hanya sekedar jargon atau tulisan di papan dalam kelas kuliah.

Yang muda memang berpotensi lebih besar untuk melakukan kesalahan karena kurang berpengalaman, terutama jika yang muda tidak sempat untuk mengikuti/menyerap pengalaman yang telah dipublikasikan generasi pendahulu. Tetapi buat saya pribadi untuk kondisi Indonesia yang seperti ini, jauh lebih dapat dimaklumi dan diterima bila suatu kesalahan adalah karena kurang pengalaman, crime of innocence gitu lah. Ketimbang kesalahan yang "terencana" dari generasi tua, yang sebenarnya berpengalaman.

Sejarah mencatat, Universitas Indonesia hadir sebagai cikal bakal dan titik tolak dari pencerahan Indonesia modern, karenanya UI memikul tanggung jawab besar untuk menjadi motor perubahan bangsa. Untuk itu, mesin utama penggerak dari transformasi Indonesia dan UI khususnya ada pada kekuatan sumber daya manusia.

"Kehadiran generasi muda yang terus berkarya menjadi jawaban doa dan pengharapan peradaban untuk menggerakan masyarakat mencapai kehidupan yang lebih baik," katanya.

Referensi:
[1] http://www.ui.ac.id/id/news/archive/3471
[2] Firmanzah, Dekan FEUI termuda
[3] kampus.okezone.com
[4] www.antara.co.id
[5] edukasi.kompas.com

Gambar iklan di ambil dari situs : evelynpy.wordpress.com